Langkah Jangka Pendek Memperbaiki Ekonomi Nasional

BI telah memperkirakan ekonomi nasional akan tumbuh 5,0-5,4 persen tahun ini. Bank Indonesia mengatakan tren pelemahan rupiah terhadap dolar AS, yang telah berlangsung setidaknya selama dua minggu terakhir, adalah gejala sementara karena ketidakpastian di pasar keuangan global. Tekanan pada rupiah tidak dapat dihindari setelah dolar AS, yang terus menguat dalam beberapa pekan terakhir, setelah perbedaan pandangan terlihat di antara berbagai anggota Komite Bank Sentral Fed sambil membahas tingkat pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS.

Langkah Jangka Pendek Memperbaiki Ekonomi Nasional. Direktur Eksekutif Departemen Manajemen Moneter BI Nanang Hendarsah di Jakarta pada hari Senin menjelaskan bahwa ketidakpastian juga dilengkapi dengan pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump tentang perang dagang dengan Cina. Dia merujuk pada ancaman Trump untuk meningkatkan bea impor AS sebesar 25 persen terhadap berbagai produk Cina senilai 200 miliar dolar AS.

Namun, diketahui bahwa dinamika yang disebabkan oleh pernyataan ini bersifat jangka pendek, karena pernyataan ini dapat berubah, kata Nanang. Pernyataan Trump juga telah mengganggu harapan para pelaku pasar, yang dalam beberapa minggu terakhir mengharapkan perdamaian dari negosiasi perdagangan antara kedua raksasa ekonomi dunia tersebut.

Ini telah mendorong volatilitas yuan turun, sementara pergerakan saham di China juga turun lima persen, katanya.

Pada hari Senin, BI menerapkan tiga intervensi (intervensi tiga kali lipat) di pasar valuta asing, Surat Utang Negara dan DNDF untuk mempertahankan nilai tukar rupiah, yang selanjutnya rupiah ditutup pada Rp14.297 per dolar AS pada hari Senin. Ini menunjukkan sedikit perbaikan karena pada Senin sore, rupiah telah jatuh ke level Rp14.300 per dolar AS.

Artikel terkait: pendaftaran merek murah

Pandangan terhadap kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar (Jisdor) menunjukkan bahwa rupiah terus melemah sejak 18 April 2019, ketika masih sekitar Rp14.016 per dolar AS. Nilai referensi untuk Jisdor pada hari Senin menunjukkan nilai tukar rupiah pada Rp14.308 per dolar AS.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dengan cepat menyoroti kemiripan antara pola pertumbuhan ekonomi 5,07 persen pada triwulan pertama 2019 dan pada periode yang sama tahun 2018.

Polanya adalah bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal pertama agak rendah, terutama jika panen bergeser ke April dan Mei, Nasution memberitahu wartawan di Jakarta pada hari Senin.

Baca juga info kampung inggris 2020.

Menteri menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun lalu juga tidak menyimpang banyak, berada pada 5,06 persen. Nasution percaya bahwa ekspor memang berdampak pada PDB, meskipun tidak signifikan.

Meskipun ekspor dan impor kami tidak terlalu jauh, pengaruhnya terhadap PDB tidak terlalu besar. Namun, dampaknya tentu terasa, meski tidak terlalu besar, kata Darmin.

Meskipun pertumbuhan kuartal pertama pada tahun 2019 hanya menyentuh 5,07 persen, Nasution optimis terhadap pertumbuhan ekonomi yang lebih baik pada kuartal berikutnya.

Artikel terkait: pendaftaran paten

Pertumbuhan kuartal kedua tentu akan meningkat. Kenaikan tercatat pada kuartal kedua tahun lalu, tahun sebelumnya, dan sebelumnya. Selain itu, pergeseran panen telah terjadi tahun ini, tetapi akan lebih baik di kuartal kedua, kata Menteri Nasution.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2019 diukur pada 5,07 persen.