Isu Penting Kesehatan Hewan Dalam Perdagangan Internasional

Ekspor produk peternakan negara itu naik 52,99 persen menjadi 183.414 ton senilai US $ 474,19 juta dalam sembilan bulan pertama tahun ini dari periode yang sama tahun lalu, kata pemerintah. Volume ekspor naik dari 119.885 ton dan nilai ekspor naik lebih tinggi lagi sebesar 194 persen, dari US $ 161,17 juta, kata Badan Pusat Statistik (BPS). Kami berharap ekspor akan terus meningkat pada kuartal terakhir tahun ini, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan I Ketut Diarmita mengatakan dalam sebuah pernyataan di Jakarta, Kamis.

Berdasarkan data di direktorat, ekspor produk peternakan dalam 3,5 tahun terakhir mencapai Rp32,13 triliun didominasi oleh obat-obatan kesehatan hewan, ekspor yang bernilai Rp21,58 triliun dengan 87 negara tujuan ekspor.

Nilai ekspor terbesar kedua adalah babi terutama ke Singapura senilai Rp3,05 triliun, diikuti oleh susu yang memberikan kontribusi Rp2,99 triliun dengan 31 negara tujuan ekspor, dan pakan ternak berkontribusi Rp3,34 triliun dengan 14 negara tujuan.

Komoditas ekspor lainnya termasuk telur, daging, pakan ternak. kambing / domba, Day Old Chicken (DOC), dan semen beku juga merupakan kontributor utama nilai ekspor produk peternakan. Ketut mengatakan kesehatan hewan telah menjadi isu penting dalam perdagangan internasional saat ini. Masalah ini sering menjadi masalah dalam memasuki pasar internasional.

Baca juga halaman ini.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa berdasarkan laporan Bank Dunia 2017, Indonesia dapat menduduki peringkat tertinggi di ASEAN untuk kontribusi dalam sektor manufaktur terhadap ekonomi dunia.

Untuk pencapaian ini, Indonesia, dengan kontribusi 20,5 persen, berada di peringkat kelima di dunia di antara negara-negara G20, kata Hartarto melalui pernyataan di Jakarta, Rabu.

Menurut data dari Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIDO), Indonesia juga berada di peringkat ke-4 di dunia di antara 15 negara yang kontribusi industri manufakturnya terhadap produk domestik bruto (PDB) di atas 10 persen.

Kita sering mendengar bahwa deindustrialisasi terjadi jika sektor manufaktur berkontribusi lebih dari 30 persen terhadap PDB. Jika kita melihat data UNIDO dan Bank Dunia, tidak ada negara dengan kontribusi sektor manufaktur di dunia mencapai lebih dari 30 persen, katanya.

Data UNIDO menunjukkan bahwa di negara industri, rata-rata kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB hanya mencapai 17 persen, sementara Indonesia mampu berkontribusi hingga 22 persen, di bawah Korea Selatan (29 persen), Cina (27 persen), dan Jerman (23 persen) ).

Indonesia melampaui Meksiko (19 persen) dan Jepang (19 persen). Negara-negara dengan kontribusi sektor industri di bawah rata-rata 17 persen termasuk India, Italia, Spanyol, Amerika Serikat, Rusia, Brasil, Prancis, Kanada, dan Inggris. Klik rental mobil bali lepas kunci.

Selain itu, mengingat hasil survei Nikkei dan Markit IHS, Indeks Manajer Pembelian Manufaktur Indonesia (PMI) selama periode Januari-November 2018 masih di atas level 50, yang menunjukkan bahwa manufaktur tetap ekspansif.

Pada November 2018, sektor Manufaktur PMI Indonesia4 berada di peringkat ke-4 di tingkat ASEAN, melampaui Thailand (49,8), Malaysia (48,2), dan Singapura (47,4). Menteri Perindustrian juga menambahkan bahwa konsep ‘Making Indonesia 4.0’ adalah aspirasi besar untuk menjadikan Indonesia salah satu dari 10 ekonomi paling kuat di dunia pada tahun 2030. Target lainnya termasuk meningkatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil sebesar 1-2 persen dan menciptakan lapangan kerja baru untuk 10 juta orang pada tahun 2030.